22 Juli 2010

Rinduku

Posted in Renungan, Tak Berkategori pada 8:34 am oleh yudios

Andai ku tahu rahasia langit

Andai ku tahu apa yang akan terjadi

Andai ku tahu kau akan meninggalkanku

Aku takkan berada di sini

Menunggu sesuatu yang tak pasti

Kelam menyelimuti hamparan di relung kegelisahan

Ku terdiam dalam kesunyian yang membiru

Berharap ombak menyampaikan pesan

Berjalan di kegelapan dengan ujung kaki yang terluka.

Yudios

6 November 2008

UU APP

Posted in Renungan tagged , , , pada 2:50 pm oleh yudios

Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (UU APP) sudah disahkan. Saya senyum sendiri. Akhirnya satu benteng telah didirikan, batin saya. Memang secara umum kita merasakan pornoaksi dan pornografi sangat tidak cocok dengan budaya kita. Budaya kita menolah akan dua hai ini. Hanya saja beberapa dekade ini, dua hal ini dirasakan seakan-akan terlalu dipaksakan di hadapan kita. Apalah lacur, kita terjebak dalam pergaulan global yang cenderung materialistis yang sangat sulit dibendung oleh bangsa manapun. Dua hal ini dianggap memiliki potensi memberikan keuntungan yang besar jika digarap dengan maksimal. Makanya dua hal ini mudah berkembang di maka-mana. Apalagi jika dua hal ini didukung oleh kebudayaan orang yang menerapkannya. Berbeda degan kita, kita adalah bangsa yang lain dari yang lain.

Sudah kedua hal ini tidak bisa kita terima, efek negatifnya juga tidak bisa kita terima. Oleh karena itu, segala unsur dalam dua hal ini benar-benar harus dibatasi. Jika pornografi dan pornoaksi menjadi marak di suatu tempat, maka kita dapat menyimpulkan bahwa peradaban manusia di tempat tersebut mengalami kemunduran. Manusia yang beradab memiliki aturan-aturan yang dia pegang demi kebaikan dan harga dirinya. Tetapi jika aturan-aturan tersebut bergeser (sebagian aturan tidak dipakai karena dianggap menghambat urusan dan keinginannya) maka kekacauan dalam banyak hal akan saling berhimpitan sehingga membuat manusia yang terjebak di dalamnya akan mendapatkan kesulitan ketika dia keluar ke tempat yang lain.

Lain halnya bagi kebudayaan yang menjadi pakaian sehari-hari orang Indonesia. Misalnya, bagaimana bagi kita yang memiliki budaya yang sebagian dari kita menganggap itu sebagai bentuk pornografi (dalam persepsi budaya lokal lain)? Ambil saja kita sebagai salah satu dari anggota suku anak dalam (suku asli Indonesia), pakaian kita mengikuti adat istiadat kita secara turun temurun. Bagi kita pakaian itu sudah sopan, mungkin saja bagi suku yang lain pakaian seperti itu kurang disukai?.

Tidak, kita sangat menghormati segala bentuk budaya dan manusia Indonesia. Bagi kita, kehormatan saudara kita adalah kehormatan kita juga. Tidak ada satupun dari kita merasa lebih terhormat dari pada suku lain. Kita sudah terbiasa dengan segala perbedaan ini. Rasa saling menghormati di antara kita telah mendarah daging. Jadi, perbedaan budaya seperti ini tidak masalah bagi kita. Hanya saja yang tidak bisa kita terima adalah masuknya pengaruh budaya asing ke dalam budaya kita. Jika ada orang lain yang berusaha mengeser standar malu dalam pergaulan kita baik dalam bentuk perang pemikiran maupun dalam bentuk penjajahan kebudayaan, maka hal ini dianggap sebagai penghinaan terhadap peradaban yang telah susah payah dibentuk oleh nenek moyang kita. Hal ini harus kita lawan. Jangan sekali kali kita mau menurunkan derajat peradaban bangsa kita.

Jadi apa solusinya? Menurut saya, kita bisa mengambil satu prinsip dalam Al Quran yang berbunyi “agamaku untuk ku, agamamu untuk mu”. Dalam persepsi ini kita memakainya menjadi: “budayaku untuk ku, budayamu untukmu. Kamu jangan memaksakan budayamu kepadaku. Hal itu tidak akan aku terima, karena bagiku budayaku adalah segalanya”.

28 Agustus 2008

MENGGAPAI KONDISI IDEAL KEHIDUPAN

Posted in Renungan tagged , , , pada 11:08 am oleh yudios

Batas yang optimal di dalam kebahagiaan adalah hidup di dalam keadaan ideal (fitrah), dimana segala sesuatu berjalan sesuai dengan kondisi ideal. Yaitu hidup dalam aturan yang benar. Hidup dalam kondisi ideal sangatlah diimpikan oleh setiap orang, tetapi banyak orang tidak tahu bagaimana mencapai kondisi ideal tersebut. Kebanyakan orang terjebak ke dalam kondisi kehidupan yang jauh menyimpang dari alam ideal kehidupannya.

Kondisi ideal setiap manusia sesuai dengan karakter pribadi yang sudah terprogram di dalam setiap manusia. Setiap manusia diciptakan dalam karakter yang beragam. Jalan kehidupannya pun beragam sesuai kehendak sang Khalik yang menentukan jalan hidupnya. Tetapi jika kita mamandang secara fitrah manusia, jika kita teliti secara mendalam, setiap manusia memiliki kemampuan membawa diri ke dalam kondisi ideal dirinya yang sebenarnya. Manusia memiliki cenderung untuk malakukan hal yang baik. Kecenderungan itu telah tercatat dalam kitab kehidupannya dan mejadi tuntunan setiap apa yang dilakukannya, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Kondisi ideal adalah kondisi dimana manusia benar-benar marasakan kebahagiaan. Walaupun tidak ada orang yang benar-benar mampu mendapatkan kondisi idealnya secara sempurna. Sehingga kondisi ideal itu hanya menjadi sebuah konsep untuk manusia, agar manusia tersebut mencapai kebahagiaan. Konsep tersebut tertuang dalam bentuk aturan-aturan yang tertanam di dalam hati manusia. Aturan-aturan inilah yang dipakai oleh naluri dan insting manusia untuk mengantarkan manusia kepada kondisi idealnya. Insting dan nurani ini akan mempengaruhi setiap tindak tanduk manusia. Semakin sesuai tindakan manusia dengan rencana kondisi ideal dirinya, maka semakin dekat dirinya dengan kebahagiaannya.

Kondisi ideal ini terkadang sulit diterjemahkan dalam perbuatan. Manusia mudah terjebak dalam kondisi bukan ideal baginya karena tuntutan lingkungannya. Berbagai pemikiran yang berkembang di dalam kehidupannya menyebabkan seseorang memutuskan melakukan hal yang diluar dari kondisi idealnya. Berbagai pemikiran dan kejadian di dalam lingkungannya mempengaruhi pemikiran manusia sehingga manusia lupa akan kondisi ideal dirinya.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui [AlQuran surat Arrum (30) ayat 30]”