6 November 2008

UU APP

Posted in Renungan tagged , , , pada 2:50 pm oleh yudios

Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (UU APP) sudah disahkan. Saya senyum sendiri. Akhirnya satu benteng telah didirikan, batin saya. Memang secara umum kita merasakan pornoaksi dan pornografi sangat tidak cocok dengan budaya kita. Budaya kita menolah akan dua hai ini. Hanya saja beberapa dekade ini, dua hal ini dirasakan seakan-akan terlalu dipaksakan di hadapan kita. Apalah lacur, kita terjebak dalam pergaulan global yang cenderung materialistis yang sangat sulit dibendung oleh bangsa manapun. Dua hal ini dianggap memiliki potensi memberikan keuntungan yang besar jika digarap dengan maksimal. Makanya dua hal ini mudah berkembang di maka-mana. Apalagi jika dua hal ini didukung oleh kebudayaan orang yang menerapkannya. Berbeda degan kita, kita adalah bangsa yang lain dari yang lain.

Sudah kedua hal ini tidak bisa kita terima, efek negatifnya juga tidak bisa kita terima. Oleh karena itu, segala unsur dalam dua hal ini benar-benar harus dibatasi. Jika pornografi dan pornoaksi menjadi marak di suatu tempat, maka kita dapat menyimpulkan bahwa peradaban manusia di tempat tersebut mengalami kemunduran. Manusia yang beradab memiliki aturan-aturan yang dia pegang demi kebaikan dan harga dirinya. Tetapi jika aturan-aturan tersebut bergeser (sebagian aturan tidak dipakai karena dianggap menghambat urusan dan keinginannya) maka kekacauan dalam banyak hal akan saling berhimpitan sehingga membuat manusia yang terjebak di dalamnya akan mendapatkan kesulitan ketika dia keluar ke tempat yang lain.

Lain halnya bagi kebudayaan yang menjadi pakaian sehari-hari orang Indonesia. Misalnya, bagaimana bagi kita yang memiliki budaya yang sebagian dari kita menganggap itu sebagai bentuk pornografi (dalam persepsi budaya lokal lain)? Ambil saja kita sebagai salah satu dari anggota suku anak dalam (suku asli Indonesia), pakaian kita mengikuti adat istiadat kita secara turun temurun. Bagi kita pakaian itu sudah sopan, mungkin saja bagi suku yang lain pakaian seperti itu kurang disukai?.

Tidak, kita sangat menghormati segala bentuk budaya dan manusia Indonesia. Bagi kita, kehormatan saudara kita adalah kehormatan kita juga. Tidak ada satupun dari kita merasa lebih terhormat dari pada suku lain. Kita sudah terbiasa dengan segala perbedaan ini. Rasa saling menghormati di antara kita telah mendarah daging. Jadi, perbedaan budaya seperti ini tidak masalah bagi kita. Hanya saja yang tidak bisa kita terima adalah masuknya pengaruh budaya asing ke dalam budaya kita. Jika ada orang lain yang berusaha mengeser standar malu dalam pergaulan kita baik dalam bentuk perang pemikiran maupun dalam bentuk penjajahan kebudayaan, maka hal ini dianggap sebagai penghinaan terhadap peradaban yang telah susah payah dibentuk oleh nenek moyang kita. Hal ini harus kita lawan. Jangan sekali kali kita mau menurunkan derajat peradaban bangsa kita.

Jadi apa solusinya? Menurut saya, kita bisa mengambil satu prinsip dalam Al Quran yang berbunyi “agamaku untuk ku, agamamu untuk mu”. Dalam persepsi ini kita memakainya menjadi: “budayaku untuk ku, budayamu untukmu. Kamu jangan memaksakan budayamu kepadaku. Hal itu tidak akan aku terima, karena bagiku budayaku adalah segalanya”.

15 Komentar »

  1. aRuL said,

    fyi : sekarang namanya UU Pornografi

  2. 'Nin said,

    Heran juga…
    Mengapa rakyat Indonesia banyak yang menyukai keterbalakangan…
    Seperti budaya yang primitif, yang tidak sesuai dengan norma agama maupun kelayakan menjadi kebanggaan, sehingga merasa terusik dengan lahirnya UU APP ini

  3. nAsruni said,

    RUU Pornografi yang ada ini memang masih jauh dari aturan yang ditetapkan dalam al Quran & haddts (tempat kita harusnya merujuk), tapi jalan menuju perbaikan haruslah tetap dilakukan… mudah2an bisa menuju ke arah Indonesia yang lebih baik dan bermartabat…😀

    Herannya masih ada saja yang menolak..😦

  4. nAsruni said,

    eh sekarang udah UU Pornografi yah…😉

  5. praditya said,

    Memang harus begini.
    Klo nggak baik ya, direvisi. gitu aja kok repot.

  6. Qta liat aja, gmn kinerja ruu tsb.. hmmm

  7. Rindu said,

    jika semua menjalankan syariat islam [buat yang islam] dan semua bertanggung jawab atas apa yang dilakoninya maka UU ini tidak lagi diperlukan … bukan begitu kang?

  8. Caray said,

    Menurut saya UU APP tidak perlu dan tidak layak di berlakukan di Indonesia, melihat negara kita adalah negara yang majemuk, dengan beragam suku, ras, agama dan budaya.
    UU APP hanya bisa diberlakukan di daerah tertentu saja, untuk itu lebih pantes dijadikan PERDA bukan UU.

  9. yudios said,

    terima kasih dan tanggapan saya atas komentar sahabat semuanya.
    aRul:
    O.ow, pornoaksinya sudah dibuang ya, saya cek lagi dah ke om Google.

    Mbak Nin:
    Banyak hal yang menjadi pertimbangan kita (sebagai bangsa), keberagaman itu merupakan pakaian kita. Entah kita siap atau tidak akan perubahan ini, kita lihat saja nanti.

    nAsruni:
    kita bisa berpendapat, menerimanya atau tidak. semuanya kita yang menalankannya. bagi yang setuju, persiapkan diri akan erbedaan yang akan kita rasakan. bagi yang tidak menerima, bersiaplah, karena hal ini sudah diundang-undangkan.

    Praditya:
    Keputusan dalam undang undang memang masih bisa di ubah atau direvisi. kecuali yang satu: Bentuk Negara!

    sarahtidaksendiri:🙂

    Rindu:
    Yup!

    Caray:
    Mungkin UU ini merupakan penegasan atas hal itu. Lambat lauh akan diterima juga. tidak selamanya di sebagian daerah tidak dapat menerimanya, ada kalanya mereka akan berfikir “betapa beruntungnya kami atas adanya UU ini.” (menurut saya lagi loh).

  10. PeGe said,

    Nggak tau deh, tapi menurut saiia, orang Indonesia masih berpatok pada kata-kata “biasanya” dan “harusnya begini/begono”..
    Jadi agak susah unjuk menjadi satu..
    Mungkin benar kata Caray diatas,, kenapa ndak jadi PerDa aja di beberapa daerah..

  11. pipiew said,

    sayang, org2 yg memprotes UU Pornografi tidak semuanya membaca dengan baik isi pasal2nya, padahal disitu tertera batasan2 dan pengecualian pengggunaan pakaian minim, termasuk batasan pelaporan oleh masyarakat sipil.

  12. Alfa5 said,

    Saya kira sudah pas UU Pornografi itu, perkara ada yang gak se7 adalah wajar wong namanya demokrasi.
    Salam jumpa, Mas, ini lama ga nongol.

  13. ikrarestart said,

    maaf baru berkunjng lagi nih😆
    oh kalo yang gak setuju sih pelaku pornografinya mas
    kalo bukan pelaku sih adem2 aja biarpun ada UU seperti itu

    lagipula apa mereka gak tahu dampak negatif dari pornografi.
    atau mereka ingin anak mereka adik2 mereka terkena korban pencabulan karena maraknya pornografi.

    yah semoga saja UU ini tidak hanya tertulis tapi terlaksana juga mas!!

  14. uswah said,

    saya belum cukup puas dengan keputusan itu karena di UU sekarang bukan lagi UU anti pornografi pornoaksi melainkan UU pornografi, kata Anti dibuang agar pornografi tetap bercokol di negeri ini,
    mungkin banyak pemikiran primitif yang bilang bahwa pornografi sebagai ladang usaha buat para kaum….
    sehingga mereka senang bergelut dengan pornografi.

  15. anti fasis-fasis yang pro UU APP said,

    gak masalah emang; dan pasti aneh buat kalian yang kepala-kepalanya fasis. tau NAZI?? nah, tingkah-tingkah kalian itu kayak para pro nazi yang belagak bego dan sok suci. Gak salah emang, kalo kalian ngerasa diuntungin.. Emang para ras arya gak ngerasa diuntungin waktu ada holocaust?? Semua bersorak gembira.
    Persamaan absolut kalian dengan mereka kentara:
    anti perbedaan, ngerasa yang diyakininnya MESTI diyakinin semua orang.

    Lupa ya ini bukan negara yang dipunyain sama Orang ISLAM aja??
    Terus karena ngerasa paling bener, kalian mau Klaim negara ini cuma punya kalian doang??
    Astaga,–kalo surga isinya orang-orang brengsek yang gak ngehargain perbedaan keinginan kayak kalian, saya mendingan masuk Neraka aja.
    Lupa ayat “Untukku agamaku, untukmu agamamu?”
    Nampaknya sebenernya islam ngajarin kalian buat ngehargain perbedaan.
    Kalian aja yang ndablek.
    Nah; kalo prakteknya suka-suka kalian, berarti mau gak mau
    “surgamu adalah nerakaku; nerakamu adalah surgaku”.
    Kalo gak ada fasis2 kaya kalian di neraka, saya yakin seisi dunia lari rame2 ke neraka.
    dasar bangsat2 sok suci yang ngerasa perlu ngatur orang lain.
    Kita emang gak beruntung ada fasis-fasis kayak kalian disini; dengan segala pembenaran minjem nama tuhan kalian. cuih!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: